[Verse 1]
Hari demi hari tak lagi bisa diungkapkan
Melangkah sendiri dihari persidangan
Waktu terus berputar tanpa kepastian
Hanya berharap pada tuhan tentang keadilan
Pendapat ahli semua telah disampaikan
Menjadi bagian dari pertimbangan
Tuduhan sangat dipaksakan
Tidak bersalah malah ditahan
Apakah ini yang namanya keadilan.
[Chorus]
Mengapa... mata masih enggan terbuka?
Mengapa... nurani memilih membisu saja?
Mengapa... tak bersalah tetap menderita?
Mengapa... luka terbungkus kecewa?
Mengapa... mengapa...
[Verse 2]
Di kota ini, gema palu lebih nyaring dari nurani,
Lorong-lorong sunyi menyimpan ribuan versi.
Mereka baca sampul sebelum buka isi,
Hingga dianggap lebih nyata dari saksi.
Nikita Mirzani menahan badai seorang diri,
Namanya bergema di setiap bibir negri.
Di tengah riuh yang saling menghakimi,
Hukum ternodai hanya prihal tentang benci.
Bapak hakim yang mulia,
Palu suci harapan bagi banyak jiwa.
Tegakkan hukum tanpa gentar,
Agar menjadi simbol benar.
Jangan biarkan yang lemah hilang suara
Karna ulah para mafia
Keadilan sila ke lima bagi sluruh rakyat indonesia
( Merdeka!! )
Suara negara sepanjang masa.
[Bridge]
Tuhan... dengarkan setiap rintihan,
Kuatkan hati yang sedang bertahan.
Semoga esok membawa jawaban,
Keadilan datang menuju kebebasan.
[Outro]
Kami bukan meminta belas kasihan,
kami hanya minta dan tunggu keadilan.
Keberanian memilih meski berdiri sendirian,
Kasus dipaksakan dari orang bermasalah
音樂風格
rap, beat, freestyle aggressive, hip hop, drak trap emotional, male voice